KADUPANDAK – Ekstrakurikuler Jurnalistik — Suasana lingkungan SMAN 1 Kadupandak kembali diwarnai oleh hiruk-pikuk antusiasme siswa menyambut pergelaran bergengsi Parade Pelataran. Sebagai agenda rutin yang diselenggarakan setiap bulan sekali, ajang ini menjadi wadah strategis bagi sekolah untuk menampung kreativitas sekaligus menemukan bakat-bakat terpendam para siswa. Parade Pelataran selalu menghadirkan tantangan segar dengan tema yang berganti-ganti setiap bulannya, serta mempertandingkan berbagai kompetisi sengit baik untuk kategori kelompok maupun individu.
Pada edisi bulan ini, parade mengusung tema besar "Kebangkitan Nasional" yang diaplikasikan melalui medium drama musikal dan tari tradisional. Namun, persiapan acara ini nyatanya bukan sekadar tentang menghafal naskah atau gerakan semata. Di balik layar, proses pra-produksi menjadi ujian nyata bagi kekompakan, manajemen waktu, dan resolusi konflik antarwarga kelas.
Berdasarkan pantauan dan laporan dari berbagai kelas pada pertengahan Mei 2026, dinamika persiapan menunjukkan pola yang serupa: berawal dari euforia, diwarnai oleh benturan ego dan rasa lelah, namun berujung pada sinergi dan kebersamaan.

Benturan Ego dan Tantangan Kekompakan
Hampir di setiap kelas, proses pra-produksi diwarnai oleh tantangan komunikasi dan penyatuan visi. Di kelas XI-G, tahap awal penentuan judul dan alur drama musikal sempat menemui jalan buntu akibat penolakan (denial) dan kerasnya ego masing-masing individu. Proses yang menguras energi ini sangat dirasakan oleh beberapa siswa yang aktif menggerakkan kelas, seperti Defia dan Nita, sebelum akhirnya ritme kerja sama berhasil dibangun bersama anggota kelas lainnya.
Kesulitan serupa juga dialami oleh Kelas X-B. Tantangan terbesar mereka adalah kurangnya kekompakan dan sulitnya mengatur jadwal di tengah kesibukan masing-masing siswa. Terlebih lagi, mereka mendapat undian untuk menampilkan Tari Bali yang menuntut tingkat kesulitan koreografi yang tinggi.
"Kesusahannya dalam persiapan Parade Pelataran kali ini adalah karena kelas yang kurang kompak," ungkap Karismaya Ramadan, salah satu siswa kelas X-B.
Sementara itu, di kelas XI-A, persiapan sempat terhenti akibat kurangnya respons dari siswa terhadap naskah dan arahan sutradara. Kebuntuan ini baru terpecahkan pada Senin (18/5) ketika salah satu guru pelaksana turun tangan memberikan nasihat tegas yang akhirnya berhasil menyentuh kesadaran siswa untuk mulai bergerak dan mengesampingkan ego masing-masing.
Berpacu dengan Waktu (Sistem Kebut Semalam)
Waktu menjadi musuh sekaligus pemacu semangat. Kelas XI-D, yang awalnya sangat antusias, sempat kehilangan momentum karena banyaknya hari libur yang membuat produksi naskah terhenti. Memasuki hari Senin (18/5), mereka terpaksa melakukan "sistem kebut" dalam merampungkan naskah dan properti—bahkan mengerjakannya di sela-sela pergantian jam pelajaran.
Di tempat lain, kelas X-B baru benar-benar memulai latihan intensif dan menyusun konsep suporter pada H-3 acara.

Sinergi, Kreativitas, dan Harmoni Kebersamaan
Meski dipenuhi intrik dan tekanan waktu, semangat kebersamaan perlahan muncul dan mendominasi jalannya persiapan.
Di Kelas XI-E, siswa membagi diri menjadi tiga kelompok kerja (tim utama, pemeran, dan ensembel). Meskipun sering terjadi perdebatan dan kendala teknis seperti hujan atau ketidakhadiran anggota, mereka berhasil menyelesaikannya tepat waktu. Begitu pula di Kelas X-E di bawah arahan wali kelas Ibu Yesti, di mana siswa yang tidak tampil menari bergotong-royong membuat aksesoris.
Dedikasi luar biasa dalam pembuatan properti ditunjukkan oleh Kelas X-C. Seluruh warga kelas tampil kompak dan bahu-membahu mengerjakan tugasnya masing-masing demi memenangkan Parade Pelataran. Mereka menghabiskan waktu dari Jumat (15/5) hingga Selasa (19/5) untuk memotong bambu, membuat umbul-umbul, mengamplas, hingga membuat bando berlapis kertas metalik. Semua dilakukan secara berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain (dari Bale Sembada, rumah Noer, hingga rumah Bayu), dan diselingi dengan latihan fisik Tari Jaipong.
Stres persiapan kerap diredakan dengan cara-cara sederhana. Di kelas XI-A, proses pembuatan properti seperti memotong triplek dan melukis bukit diiringi oleh alunan musik dangdut seperti Sambalado dan Goyang Nasi Padang yang mencairkan suasana. Sementara itu, kelompok pembuat umbul-umbul dari Kelas X-C menutup hari latihan mereka yang melelahkan pada Selasa (19/5) dengan momen penuh tawa: makan ngaliwet bersama merayakan ulang tahun salah satu teman mereka, Wirda.
Menyambut hari-H, perasaan campur aduk mewarnai para siswa. Seorang perwakilan dari kelas XI-E merangkum keseluruhan proses ini dengan sempurna:
"Saya merasa senang tapi saya juga merasa rudet. Senangnya karena kita bisa kumpul bareng-bareng, seru-seruan, mengeluarkan imajinasi, dan semua ikut berperan. Rudetnya karena orang-orang yang sulit diatur, sulit diajak kerja sama, dan adu ego di setiap waktunya."
Pada akhirnya, Parade Pelataran bulan ini membuktikan bahwa karya seni yang indah di atas panggung selalu lahir dari proses di belakang layar yang tidak kalah dramatis. Seluruh siswa kini bersiap untuk memberikan penampilan terbaik mereka, membuktikan talenta sekaligus membawa semangat persatuan yang sesungguhnya dari Kebangkitan Nasional.
Diskusi (0)