KADUPANDAK – Ekstrakurikuler Jurnalistik - Menjelang tutup tahun ajaran, ada pemandangan berbeda di ruang perpustakaan SMA Negeri 1 Kadupandak. Alih-alih menyewa jasa studio foto eksternal, pihak sekolah mengambil langkah taktis sekaligus edukatif dengan mempercayakan agenda pemotretan identitas rapor kelas X sepenuhnya kepada tim Ekstrakurikuler Jurnalistik. Langkah ini tidak sekadar menjadi upaya pemenuhan tertib administrasi, tetapi menjelma menjadi panggung pembuktian kompetensi para jurnalis muda sekolah tersebut.
Pemberdayaan dan Manajemen Lapangan
Pelaksanaan pemotretan yang melibatkan ratusan siswa ini dikelola dengan manajemen lapangan yang terstruktur. Guna memastikan kelancaran dan mencegah penumpukan massa, para siswa kelas X hadir secara bergiliran sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Dengan mengenakan seragam sekolah lengkap, para siswa tampak antusias dan tertib mengikuti setiap arahan dari kru jurnalistik yang bertugas.
Menariknya, tim jurnalistik SMAN 1 Kadupandak tidak sekadar memotret, tetapi juga menerapkan standar studio profesional. Mereka mengaplikasikan teknik tethered shooting, di mana kamera dihubungkan langsung ke monitor komputer. Melalui sistem ini, hasil jepretan dapat langsung terlihat dan dievaluasi secara real-time di layar begitu tombol shutter ditekan.
Bagi Haqillah Rahuli dan Hendra Hendriana Sandi, dua anggota ekstrakurikuler yang bertindak sebagai fotografer utama, adopsi teknologi ini menjadi tantangan tersendiri.
"Ini adalah kali pertama kami melakukan pemotretan dengan sistem tethered shooting cable. Jujur, awalnya sempat deg-degan. Tapi di sisi lain, kami sangat senang karena ini benar-benar membuka wawasan dan memberikan pengalaman teknis yang baru," ungkap mereka kompak.

Kepuasan tidak hanya dirasakan oleh tim di balik lensa, tetapi juga oleh para siswa yang menjadi objek foto. Fitri Cahyani, siswi kelas X-E, membagikan pengalamannya. "Sempat deg-degan waktu menunggu giliran difoto. Tapi perasaannya berubah jadi sangat senang karena hasil fotonya memuaskan. Apalagi antriannya teratur, jadi seluruh siswa di kelas saya bisa selesai dengan cepat," tuturnya.
Visi Edukasi: Simulasi Dunia Kerja
Di balik kelancaran agenda besar ini, terdapat visi pembinaan karakter dan keahlian yang terarah. Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik SMAN 1 Kadupandak, Pak Cipta Ismaya, S.Tr.Kom., Gr., memaparkan bahwa pelibatan siswa secara penuh ini adalah sebuah skenario pembelajaran berbasis proyek (project-based learning).
"Alasan utama mengapa pemotretan ini diambil alih oleh tim jurnalistik adalah karena saya ingin memberikan real experience kepada mereka. Saya ingin mereka tahu bagaimana cara memanfaatkan skill yang sudah diasah di ekstrakurikuler untuk kemudian diaplikasikan layaknya di dunia kerja," jelas Pak Cipta.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa proyek ini juga melatih soft skill manajerial para siswa. "Di sini mereka merasakan langsung prosesnya secara utuh. mulai dari teknis pengambilan gambar, mengarahkan subjek, hingga bagaimana mereka harus berkoordinasi dengan banyak pihak agar acara ini sukses. Pada akhirnya, mereka bisa menikmati kebanggaan dan keuntungan finansial atas hasil jerih payah mereka sendiri. Ini bisa dibilang semacam pelatihan prakerja untuk mereka," pungkasnya.
Melalui inisiatif ini, SMAN 1 Kadupandak membuktikan bahwa ruang-ruang ekstrakurikuler bukan sekadar tempat menyalurkan hobi, melainkan inkubator yang efektif untuk mencetak generasi yang siap terjun ke dunia profesional.
Diskusi (5)