CIANJUR- Ekstarkurikuler Jurnalistik — Kompetisi tak melulu soal siapa yang membawa pulang piala teratas. Bagi rombongan SMA Negeri 1 Kadupandak, ajang Festival dan Lomba Seni & Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Kabupaten Cianjur yang digelar pada Selasa (28/4) di SMAN 1 Cianjur, menjadi panggung pembuktian talenta sekaligus wadah pendewasaan mental bagi para siswanya.
Di tengah persaingan ketat yang berlangsung sejak pukul 06.30 hingga 19.00 WIB, delegasi SMAN 1 Kadupandak sukses unjuk gigi dengan membawa pulang dua gelar juara yang sarat akan pesan pelestarian budaya lokal.
Mengangkat Tradisi Lewat Kanvas Digital dan Lensa Kamera

Gelar Juara 3 sukses diraih oleh Salman Wahid X-A, pada cabang Komik Digital. Lewat karya bertajuk "Satu Garis", Salman menyajikan refleksi diri seorang kreator. Komiknya mengisahkan seorang siswa yang gemar menggambar aksi pertarungan tanpa esensi, hingga akhirnya ia tersadar bahwa kanvas digitalnya bisa menjadi medium untuk mengangkat kekayaan budaya Indonesia, seperti seni bela diri pencak silat.
Prestasi bergengsi lainnya datang dari cabang Film Pendek. Tim yang digawangi oleh Hendra Hendriana Sandi XI-G, Haqillah Rahuli XI-F, dan M. Syahbi X-C ini berhasil menyabet Juara Harapan 2. Film mereka yang berjudul "Laras" menyoroti isu relevan di kalangan seniman muda, menyampaikan pesan kuat tentang keselarasan antara seni konvensional dan karya digital.
Selain kedua cabang tersebut, SMAN 1 Kadupandak juga tampil memukau di berbagai cabang lain:
Jurnalistik: Defia Syahra Nurmaulida XI-G, mengangkat pesona Kesenian Rudat, tradisi asli Kadupandak.
Poster Digital: Sri Hartati XI-A, membawa pesan urgensi Bijak Bermedia Digital.
Menyanyi Solo Putri: Nuraini Salsabilah Khoirunnisa X-C, tampil anggun membawakan alunan nyanyian yang berjudul "Es Lilin".
Baca Puisi: Suci Sumirat XI-A, tampil penuh penghayatan membawakan puisi "Jembatan".
Dinamika Perjalanan: Sugesti, Dedikasi, dan Dukungan Penuh
Di balik karya-karya hebat tersebut, terdapat perjalanan panjang yang penuh dinamika sejak keberangkatan pada Senin (27/4). Nuraini Salsabilah harus berjuang melawan mabuk perjalanan akibat sugesti bahwa kabin mobil pengap dan bau. Namun, ia menunjukkan daya juang tinggi dengan menahan kondisinya saat pulang, walau akhirnya terkapar kelelahan.
Demi memastikan kondisi peserta tetap prima, rombongan menginap di kediaman Pak Dodi, S.Pd., yang menjadikan rumahnya sebagai basecamp sekaligus memberikan bantuan tenaga. Solidaritas juga ditunjukkan oleh Firza Firmansyah, siswa kelas XII peraih Juara Harapan 1 Film Pendek FLS3N 2025, yang ikut turun gunung memberikan suntikan moral dan tenaga tambahan.
Pendekatan Humanis Para Guru di Balik Layar
Kesuksesan kontingen ini tidak lepas dari tangan dingin para pembimbing. Pak Dani Firmansyah, S.E., memberikan dedikasi penuh mengawal Jurnalistik, Menyanyi Solo Putri, dan Puisi. Sementara itu, Pak Cipta Ismaya, S.Tr.Kom.Gr., yang mengawal Komik Digital, Film Pendek, dan Poster Digital, menggunakan pendekatan jenaka. Sifat humorisnya menjadi "senjata" andalan untuk mencairkan kecanggungan, membuat siswa lebih rileks, dan terbuka.
Air Mata, Sebakul Nasi, dan Medali Kebersamaan
Pengumuman pemenang pada pukul 19.00 WIB menjadi klimaks yang menguras emosi. Tidak semua peserta mencapai target yang diharapkan. Defia Syahra Nurmaulida bahkan tak kuasa menghentikan tangisnya saat mendengar pengumuman. Ia merasa belum memberikan hasil maksimal dalam penulisan beritanya. Namun, di balik isak tangis tersebut, tertanam sebuah resolusi; kegagalan ini menjadi motivasi terbesarnya bahwa masih banyak perbendaharaan kata dan teknik jurnalistik yang harus ia pelajari ke depannya.
Melihat siswanya terpukul, para guru pembimbing segera merangkul mereka. "Ini hanyalah sebuah awal. Kesempatan kalian di depan masih sangat banyak, maka jangan pernah berhenti belajar," pesan para guru dengan penuh empati.
Sebagai bentuk apresiasi, rombongan diajak singgah di sebuah rumah makan terkenal di Cianjur dalam perjalanan pulang. Para siswa dibebaskan memilih menu sesuka hati. Di momen makan inilah, sebuah insiden kecil tak terduga terjadi. Hendra Hendriana Sandi, yang tampaknya kehilangan fokus karena kelelahan, tanpa sengaja menumpahkan sebakul nasi ke atas meja. Kejadian ini sontak memecah ketegangan, mengundang senyum dari para anggota rombongan.
Suasana hati para siswa pun berangsur-angsur sedikit terobati, meski di sudut hati terdalam masih menyisakan rasa pedih atas sesuatu yang belum bisa dicapai. Di bangku lain, tampak Suci dan Defia saling merangkul dan menguatkan satu sama lain, walau sesekali keduanya masih tiba-tiba menitikkan air mata.
Malam itu ditutup dengan sebuah pelajaran berharga: bahwa piala dan piagam hanyalah bonus. Kemenangan sesungguhnya bagi siswa-siswi SMAN 1 Kadupandak adalah mental baja yang berhasil mereka tempa, serta rasa kekeluargaan yang makin erat terjalin di panggung FLS3N.
Diskusi (4)